ARTIKEL
Komentar (0)
Rakornas KPI: Peran Media, Mendidik atau Merusak Otak Generasi Muda?
Rakornas KPI: Peran Media, Mendidik atau Merusak Otak Generasi Muda?
Senin, 08 April 2013 | 7:17 PM

Senin (1/4/2013)lalu, Psikolog dan Pakar Parenting Kita Dan Buah Hati Foundation (KBHF), Elly Risman menjadi salah satu pembicara pada Rapat Koordinasi Nasional Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Pada acara yang digelar di Nusa Dua – Bali ini KPI menyoroti mengenai pentingnya peranan keluarga dalam menumbuhkan budaya sadar media. Hadir pula diantaranya Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Linda Amalia Sari Gumelar dan pakar televisi Ishadi SK dalam acara tersebut.

Elly Risman, dalam rakornas tersebut mengungkapkan keprihatinannya mengenai begitu banyaknya program acara media (televisi khususnya) yang kurang bahkan tidak memiliki kualitas,manfaat dan nilai edukasi. Dari sekian banyak saluran televisi, rata-rata hampir seluruh media memiliki program acara yang nyaris sama demi mengejar rating. Dalam dunia media di Indonesia saat ini, pencapaian rating masih menjadi tolok ukur utama kesuksesan sebuah program acara, bukan karena kualitas program tersebut.

Seperti yang kita ketahui, industri penyiaran di Indonesia yang berkembang pesat membidik spektrum konsumen yang sangat luas. Hal ini terlihat dari hadirnya 343 televisi swasta dan 1.376 radio swasta di Indonesia hari ini. Sayangnya, kesadaran publik sebagai konsumen masih belum cukup, belum seimbang dengan perkembangan media yang ada.

“Produk-produk yang dibuat dengan tergesa-gesa tanpa memperhitungkan kualitas,nilai-nilai, juga dampak buruk yang akan ditimbulkan sesungguhnya adalah produk yang amat membahayakan dan merusak generasi muda Indonesia karena tidak mempertimbangkan kelas usia dan kelas sosial konsumennya. Apakah tingginya kasus-kasus inses, mutilasi, perkosaan, pelecehan seksual yang terjadi di Indonesia tidak belajar dari media?” tegasnya.

Elly Risman menggarisbawahi meningkat tajamnya kasus-kasus kriminal saat ini yang terjadi merata hampir di semua propinsi di Indonesia. Dihadapan para peserta Rakornas ia juga memaparkan bahwa ada 88.909.493 jiwa anak-anak Indonesia yang tersebar di 17 ribu pulau yang berpotensi mengalami kerusakan otak akibat mengonsumsi tayangan negatif melalui media. Karena secara umum dari sekitar 115.917.841 keluarga di Indonesia, hampir semua dapat dikatakan memiliki dan menjadi konsumen media (televisi).

“Seorang anak yang mata dan otaknya sudah terkontaminasi oleh suguhan materi kekerasan dan pornografi berpotensi besar mengalami kerusakan otak. Kerusakan otak persisnya pada bagian Pre Frontal Cortex (PFC) mengakibatkan anak memiliki adiksi terhadap perilaku negatif, tidak bisa mengendalikan tingkah lakunya akibat dorongan kebutuhan hawa nafsunya meningkat serta mencari cara untuk menyalurkannya tanpa mengerti konsekuensi yang ditimbulkan. Mengapa demikian? Hal ini terjadi karena PFC merupakan pengendali impuls-impuls syaraf pada otak. Antara lain sebagai pengendali hawa nafsu dan emosi, pusat pembuat perencanaan dan pembuat kebijakan. PFC merupakan direkturnya otak manusia. PFC pula yang membedakan antara manusia dengan hewan,” paparnya. (irm)

comments powered by Disqus


"Join Here"
Together with Kita dan Buah Hati Foundation, you can obtain right, good and fun information on parenting.
Join us
Join the 75,000 people following Kita dan Buah Hati Foundation.
icon facebook
icon twitter