ARTIKEL
Komentar (0)
Peka Terhadap Kebutuhan Remaja Kita,Mencegah Pelecehan Seksual
Peka Terhadap Kebutuhan Remaja Kita,Mencegah Pelecehan Seksual
Kamis, 14 Maret 2013 | 9:57 AM

Kasus pelecehan seksual berupa oral seks seorang guru sekolah menengah atas di Jakarta terhadap siswinya kembali menyentak para orangtua. Kasus ini seperti melengkapi tingginya angka kasus kekerasan seksual pada anak-anak di negeri ini.

Ironisnya, guru yang dituduh melakukan pelecehan tersebut malah berbailk menuduh korban melakukan fitnah. Bagaimana mungkin pelaku malah bisa melakukan pembelaan semudah itu? “Kasus pelecehan oral seks seperti ini memang sangat sulit dibuktikan dengan visum, malah sering kali faktanya diputar balikkan. Bahkan kasus pelecehan oral seks ini sering tidak terungkap dengan alasan korban tidak hamil,” ungkap S.Evangeline I.Suaidy, M.Si,Psi, psikolog klinis dari Yayasan Kita Dan Buah Hati.

Seringnya korban mengalami intimidasi pihak-pihak tertentu untuk diselesaikan secara damai kekeluargaan. Alasan yang dikemukakan lebih berpihak pada pelaku, bukan pada dampak psikologis yang ditanggung oleh korban. Padahal pelecehan berbentuk oral seks juga mengakibatkan hancurnya harga diri korban sama dengan korban perkosaan lainnya. Hal ini bisa terjadi akibat hubungan dengan posisi kedudukan yang tidak seimbang, seperti dalam kasus ini dimana pelaku adalah guru, membuat korban (siswa) tidak bisa menolak.

Lalu bagaimana varanya agar anak-anak remaja kita tidak menjadi korban pelecehan seksual seperti di atas? “Orangtua harus peka untuk memahami kebutuhan anak-anak remajanya. Jangan sampai orang lain yang ‘menangkap’ kebutuhan remaja tersebut dan memanfaatkannya. Berikan anak-anak remaja kita perhatian, pengakuan serta kasih sayang penuh,” jelas Evangeline lagi.

Menurutnya, pada kasus pelecehan seksual biasanya korban punya kebutuhan-kebutuhan seperti yang dijelaskan diatas yang tidak terpenuhi dari keluarganya. Kebutuhan atau perasaan terbaca oleh pelaku sehingga memanfaatkan untuk kepentingan pribadinya. Ia juga mengingatkan agar orangtua mengajarkan setiap anak remajanya untuk bertindak ASERTIF. Berani berkata TIDAK disertai keberanian menolak secara tindakan sehingga terhindar dari bahaya pelecehan seksual dari orang disekitarnya. (irm)




S. Evangeline I. Suaidy, M.Si, Psi
comments powered by Disqus


"Join Here"
Together with Kita dan Buah Hati Foundation, you can obtain right, good and fun information on parenting.
Join us
Join the 75,000 people following Kita dan Buah Hati Foundation.
icon facebook
icon twitter